Dia Bicara Apa Saja ?
Sabtu, 05 September 2026
Cerita Senja 1
Rabu, 19 Agustus 2026
Dua Cerita dari Tanah Abang
Pembuka
Jalan-jalan di Tanah Abang
Tiada kantung berisi uang
Kala kembali ditanya barang
Bilang itu tanah luas bukan kepalang
Puisi kecil ini menjadi pintu pembuka bagi dua kisah ringan—tentang seorang pria tua dan seorang pria kecil. Dua sosok berbeda generasi, namun sama-sama hidup dalam keseharian yang sederhana, penuh warna, dan sarat makna. Cerita mereka bukan kisah besar, melainkan obrolan ringan yang cocok menemani secangkir kopi sore.
Tentang Tanah, Uang, dan Isi Kepala
Bukan apa yang ditanya, tapi bagaimana kepala memutar jawabannya. Bicara tentang tanah luas, seolah mengukur sesuatu yang tak kasat mata—seberapa besar, seberapa bernilai, seberapa repot membayangkannya. Seperti pergi ke pasar tanpa uang, lalu pulang tanpa buah tangan. Dalam bahasa apa pun, tetap saja: semua butuh sesuatu untuk diisi.
Nutrisi biar sebatas pengisi
Gizi bikin otot berisi
Zat makanan penambah kekuatan
Nutrien pelengkap selfie makin keren
Unsur organik, penontonnya naik
Namun, bila semua itu tak pernah ada, makna hanya menempati halaman definisi—tak ubahnya beton tanpa penghuni, sisa masa lalu yang kehilangan denyutnya.
Riuh dan Sunyi
Kerusuhan yang ditawarkan
Kekacauan lalu bermunculan
Pergolakan tidak dapat dikendalikan
Huru-hara seolah babak sandiwara
Keributan didengar telinga dirapatkan
Konflik hanya kesalahpahaman
Di tengah hiruk-pikuk dunia, manusia tetap mencari tawa. Bahkan dalam mitologi, para dewa pun punya caranya sendiri untuk bercanda.
Dewa Siwa, juga dewa mereka yang memuja,
Yang lain juga bicara dengan cara mitologinya.
Nggak mau dianggap gitu, mencoba metodeloginya,
Yang nggak ngerti, siapa larang pakai giginya!
Dulu-dulu bro, sekarang-sekarang!
Memanas obrolan, dipudarkan tawa.
Muncul wajah di layar, lebar tawa Si Tua.
Dia yang juga dulu pernah muda,
Yang muda dan belum pernah tua,
Kini terhenti, sama-sama tertawa.
Dipenuhi rasa ingin tahu—siapa dia?
Cerita Pertama: Ong Ba, Si Tua yang Tak Mau Diam
Sosok dan Penampilan
Ong Ba—atau Kakek Ba—adalah lansia berusia 75 tahun yang rambutnya telah seputih kapas, disisir rapi ke belakang dengan gaya klasik Asia Tenggara era 60-an. Kulitnya cokelat matang, penuh kerutan yang bercerita. Matanya sipit, namun binarnya tajam dan hidup. Tubuhnya kurus tapi liat, langkahnya masih mantap meski pundaknya sedikit membungkuk.
Ia selalu mengenakan kemeja katun tipis dan celana safari longgar, lengkap dengan topi fedora tua. Sandal jepit atau sepatu kanvas lusuh menjadi teman setianya. Ia bukan sekadar tua—ia hidup dengan semangat yang menolak layu.
Jiwa yang Tak Mau Diam
Bagi Ong Ba, berhenti bergerak berarti menyerah pada usia. Setiap pagi ia berjalan ke kedai kopi, menikmati Cà phê sữa đá sambil berbincang dengan sesama lansia. Siang hari, ia menjelajahi pasar atau gang-gang kota, menikmati semilir angin dan hiruk kehidupan. Dunia luar adalah panggung kecilnya.
Namun, musuh terbesarnya bukan penyakit, melainkan anak bungsunya sendiri—sang penjaga yang terlalu sayang.
Sang Penghalang Kesayangan
Anak bungsu Ong Ba memperlakukannya seperti porselen rapuh. Setiap kali Ong Ba hendak keluar rumah, selalu ada alasan untuk menahannya:
Ritual kecil ini menjadi drama harian mereka—tarik-ulur antara kebebasan dan kasih sayang. Sebuah bentuk cinta yang lucu, hangat, dan melelahkan.
Cerita Kedua: Drama Bulu Ayam
Kakek dan Cucu
Di balik keras kepalanya, Ong Ba adalah kakek yang lembut. Ia selalu membawa permen wijen atau mainan kayu di saku kemejanya untuk cucu-cucunya. Namun, yang paling ia sayangi adalah cucu termuda—balita lucu anak dari si bungsu yang protektif itu. Bagi Ong Ba, cucu kecil ini adalah cerminan dirinya di masa lalu: polos, lembut, dan harus dijaga.
Anak Bungsu yang Jahil
Si bungsu, meski penuh kasih, punya kebiasaan jahil. Ia sering mencabut sehelai bulu ayam dari kemoceng tua, lalu menggelitik hidung bayinya yang sedang tidur hanya untuk melihat reaksi lucu. Bagi Ong Ba, itu bukan lelucon—itu dosa besar terhadap ketenangan.
Fragmen Siang Hari
Sore itu, rumah tenang. Angin berembus lembut, bayi tidur pulas di kasur lipat. Ong Ba duduk di kursi rotan, menatap cucunya dengan kasih. Lalu datanglah si bungsu, melangkah pelan dengan bulu ayam di tangan.
Namun si bungsu tetap melanjutkan aksinya. Sang bayi bersin kecil, menggeliat, lalu menangis. Seketika, Ong Ba berdiri, sandal jepitnya menampar lantai keras. Ia merebut bulu ayam itu, mematahkannya dua, dan menuding anaknya dengan amarah yang membara.
Si bungsu terdiam, lalu berakting dramatis, memegangi dada seolah terluka.
Ong Ba mengancam akan pergi ke Hanoi seminggu penuh. Si bungsu panik, memohon ampun. Sementara itu, sang bayi—yang menjadi pusat drama—sudah bangun, duduk, dan bertepuk tangan gembira melihat pertunjukan sore keluarganya.
Penutup
Dua cerita ini, dari Tanah Abang hingga rumah Ong Ba, sama-sama berbicara tentang hal yang sederhana: manusia dan kebiasaannya. Tentang cinta yang kadang berlebihan, tentang tawa yang muncul di tengah kesalahpahaman, dan tentang hidup yang terus berjalan meski kantung kosong atau rambut memutih.
Karena pada akhirnya, hidup memang tak selalu butuh banyak uang atau tanah luas—cukup sedikit tawa, secangkir kopi, dan cerita yang bisa dibagikan.
Syair Selempang Pedang
Minggu, 19 Juli 2026
NUansa SePADAn
NUansa SePADAn: Siapa Bilang Susah Klik?
Pernah nggak sih kalian ketemu sama orang yang baru kenal, tapi rasanya langsung nyambung banget kayak udah kenal lama? Obrolan mengalir lancar, ide-ide muncul, bahkan hal-hal receh pun bisa jadi bahan ketawa. Nah, itu dia yang sering kita sebut sebagai "sepadan" atau "klik" dalam percakapan.
Tapi, jangan salah. Ada juga lho, orang yang udah ketemu berkali-kali, ngobrol pun seadanya, rasanya kayak ada tembok tipis yang memisahkan. Diskusi yang seru jadi agak sulit terwujud, padahal mungkin aja punya banyak kesamaan. Kadang kita bilang, "kok nggak satu frekuensi ya?" Padahal, kesamaan hobi, daerah asal, almamater, nasib (ups!), atau bahkan tujuan hidup, belum tentu menjamin kita langsung "sepadan" dalam obrolan.
Mengapa Kadang Sulit "Klik"?
Nah, ini dia nih yang bikin penasaran. Kenapa ada orang yang gampang banget jadi "sepadan" sama siapa pun, sementara yang lain butuh waktu lebih lama, atau bahkan nggak pernah terwujud? Mungkin ada beberapa "trik" atau "siasat" yang bisa kita pelajari, tapi ingat, ini bukan buat menggurui, cuma sekadar berbagi pengalaman ringan.
Contoh situazioni:
- Menghindari debat kusir: Kalau lawan bicara lagi nggak mood atau nggak tertarik buat berdebat, ngapain dipaksakan? Nanti malah jadi drama yang nggak perlu. Lebih baik cari topik lain yang lebih menyenangkan.
- Pilih kasih dalam penjelasan: Nggak semua orang butuh penjelasan panjang lebar. Kalau memang nggak nyambung, apalagi kalau dia kayaknya nggak peduli, ya sudahlah. Hemat energi, hemat kata-kata.
- Menghargai itu kunci: Ini paling penting! Mau seberapa "pintar" kita, kalau nggak bisa menghargai lawan bicara, ya percuma. Dengarkan baik-baik, jangan memotong seenaknya, dan tunjukkan kalau kita tertarik dengan apa yang dia sampaikan.
- Menjaga sikap pada si "sok tahu": Ada aja kan, orang yang merasa paling tahu segalanya? Kalau ketemu yang begini, kadang senyum saja sudah cukup. Atau kalau memang gemesin banget, bisa dibalas dengan candaan ringan yang nggak menyinggung.
- Pertanyaan yang lebih "menggugah": Daripada bertanya "apa kabar?", coba deh yang lebih spesifik dan kreatif. Misalnya, "Apa hal paling seru yang kamu alami minggu ini?" atau "Ada proyek menarik yang lagi kamu kerjakan?". Ini bisa membuka percakapan yang lebih dalam.
- Siasat "level di atas": Kadang, menempatkan diri sedikit lebih "tinggi" dalam percakapan bisa jadi strategi. Tapi ingat, ini bukan untuk mendominasi atau merendahkan. Gunakan sesekali saja, untuk memandu arah obrolan atau memberikan perspektif baru. Jangan sampai jadi sombong, ya!
Jadi, Gimana Biar Jadi "Sepadan" Sama Siapa Pun?
Sebenarnya, nggak ada formula ajaib untuk menjadi "sepadan" dengan semua orang. Tapi, banyak orang yang berhasil melakukannya. Mereka ini seperti "master" dalam seni percakapan. Apa sih rahasianya?
Intinya, mereka punya kemampuan untuk membaca situasi dan lawan bicara. Mereka tahu kapan harus serius, kapan harus bercanda, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus memberi masukan. Mereka juga punya energi positif yang menular, sehingga orang lain merasa nyaman dan terbuka.
Mungkin kita bisa belajar dari mereka. Perhatikan bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana mereka merespons, dan bagaimana mereka membuat orang lain merasa dihargai. Nggak perlu jadi orang lain, cukup ambil sisi-sisi positifnya dan adaptasikan dengan kepribadian kita sendiri.
Jadi, jangan khawatir kalau belum semua orang terasa "sepadan". Teruslah berlatih, jadilah pendengar yang baik, dan yang terpenting, nikmati setiap proses percakapan. Siapa tahu, dengan sedikit usaha dan sikap yang tepat, kita bisa menemukan "NUansa SePADAn" di setiap interaksi!
Minggu, 18 Mei 2025
hajatrutinsidr: Sebagai Bagian Yang Tiada Terdengar
Minggu, 11 Mei 2025
Berada Pada Timnya
bukan tanpa alasan bila ia membiarkan bertumpuknya perkara atau masalah yang pernah sampai padanya, hingga dilihatnya; tentu bukan tanpa tujuan bila saat terbaiklah yang dipilihnya untuk bicara... akan hal itu.
Setidaknya menuju pada orang yang tepat, pembicaraan itu akan disampaikan, dan tidak semuanya serta merta menjadi konten murahan, apalagi berdaur ulang tanpa kendali jari-jari pemakai ai tanpa sempat mengenali apa sebenarnya isi hingga acap memantikkan jemu berulang kali mengganyang durasi;
cukup ia yang telah datang pada waktunya, mendapatkan apa yang ia sebenarnya cari; seperti apa yang telah mulai dan juga ia ingin bangun; sebagaimana ia punya cinta. Kepadamu atau yang lain yang tidak ingin mengerti, setidaknya dapat mengerti bahwa ada sisi lain yang lebih menarik untuk kau pandang dan membawa hatimu senang.
Cerita Senja 1
Sudah lewat dari dua belas tahun lebih, berarti atau tidak menggerakkan tinta terkadang menjaga akal tetap waras dan kemampuan serta fungsi ...
-
Tidak. Tentu saja tidak demikian. Tempat kecerdasan Tersebar merata di badan kita. Katakan hampir pada semua bagian sebenarnya dapat menyam...
-
NUansa SePADAn: Siapa Bilang Susah Klik? NUansa SePADAn: Siapa Bilang Susah Klik? Pernah...