Syair Selempang Pedang
— nyanyian api di medan laga —
Dengarlah gemuruh sebelum fajar menyingsing, tanda genderang perang mula dipalu,
seorang kesatria bangkit dari sujud sepinya, selempang pedang tersandang di bahu tak ragu.
Bukan minyak yang mengkilapkan tubuhnya kini, bukan pula wangi yang dicari agar dipuja,
melainkan keringat yang bercampur darah suci, mengalir jadi saksi tekad yang tak pernah sirna.
Maka bacalah bait demi bait yang membara ini, bukan sekadar kata yang disusun tanpa jiwa,
tapi seruan yang membangkitkan singa tidur di dada, agar bangkit menghunus tanpa ragu dan gentar.
I
Pedang terhunus di ufuk senja, berkilau bagai bara yang menyala,
Bukan untuk gagah semata dimata, tapi sumpah yang telah terpatri lama.
Selempang kain merah melilit dada, tanda darah yang siap dipertaruhkan,
Setiap kesatria yang berdiri gagah, tak gentar walau lawan seribu barisan.
II
Bukan cairan wangi yang dioleskan, bukan pula minyak agar tubuh berkilau,
Yang membalur raga sang pendekar perang, hanyalah peluh perjuangan yang syahdu.
Ia tak butuh sari kelapa yang asli, ataupun getah tanaman nan harum semerbak,
Cukup baginya darah yang mengalir gagah, sebagai bukti nyata bukan sekadar kelakar.
III
Diminyaki bukan agar orang terpesona, bukan agar dikenang gagahnya semata,
Tapi agar musuh yang berdiri di seberang, gentar melihat sinar mata yang membara.
Kilauan pedang lebih tajam dari kata, memantulkan cahaya di tengah kegelapan,
Setiap ayunan membawa maut mendekat, bagi siapa yang berani menghalangi jalan.
IV
Angin berhembus membawa bau mesiu, bercampur debu dari tapak kaki pasukan,
Setiap hembusan bagai sembilu tajam, menikam jantung lawan hingga tunggang langgang.
Panas membakar bukan hanya di kulit, tapi menjalar sampai ke ulu hati,
Kobaran semangat tak bisa dipadamkan, walau hujan panah datang bertubi-tubi.
V
Genderang ditabuh menggetarkan tanah, seruling perang melengking di udara,
Kuda-kuda perang meringkik garang, siap menerjang siapapun yang menghadang.
Debu mengepul bagai kabut kelabu, menutupi ufuk yang tadinya cerah,
Namun mata sang kesatria tetap awas, menatap tajam ke arah musuh yang gerah.
VI
Tak ada waktu tuk berdiam lama, tak ada ruang tuk mundur ke belakang,
Yang ada hanya maju atau tumbang, gugur sebagai pahlawan bukan pecundang.
Setiap langkah adalah taruhan nyawa, setiap tebasan adalah doa yang dipanjatkan,
Biarlah tubuh ini hancur di medan juang, asalkan marwah tetap terjaga dan terpandang.
VII
Lawan yang gagah mulai goyah langkahnya, melihat barisan tak gentar sedikitpun,
Tombak dan perisai berbenturan keras, suara logam memekakkan seantero alun.
Teriakan perang membelah cakrawala, menggetarkan jiwa yang lemah tak berdaya,
Siapa yang berani hadapi murka ini, hanya mereka yang benar-benar berjiwa baja.
VIII
Kengerian menjalar di barisan lawan, tunggang langgang mencari jalan lari,
Namun pedang membara tak kenal ampun, mengejar hingga ke ujung negeri.
Bukan karena dendam yang membutakan, tapi karena harga diri yang dipertahankan,
Tanah tumpah darah tak boleh diinjak, oleh kaki yang datang tuk merampas kehormatan.
IX
Matahari tenggelam berwarna merah saga, seolah ikut menangis melihat pertikaian,
Namun di dada kesatria tak ada gentar, hanya nyala api yang terus dikobarkan.
Ia berdiri tegak di antara reruntuhan, selempang pedang basah oleh peluh dan darah,
Matanya menatap ke depan tanpa gentar, karena baginya mundur adalah sebuah dosa.
X
Bukan kilau minyak yang membuat gagah, bukan pula wangi yang membuat disegani,
Tapi luka yang menghiasi setiap jengkal tubuh, menjadi bukti pengorbanan sejati.
Ia tak pernah sadar berapa lama bertahan, di tanah yang telah dijaganya sekian lama,
Namun satu yang pasti tertanam di dadanya, tanah ini tak akan pernah ia serahkan begitu saja.
XI
Setiap tetes darah yang jatuh ke bumi, menjadi saksi bisu perjuangan yang panjang,
Setiap jasad yang terkapar di medan juang, adalah kisah yang takkan pernah hilang.
Biarlah nama tak tercatat dalam prasasti, cukuplah bumi yang menjadi saksi,
Bahwa pernah ada jiwa yang berani berdiri, mempertahankan marwah hingga mati.
XII
Api dalam dada tak pernah padam, walau raga penat dan luka menganga,
Sebab semangat bukan perkara fisik semata, tapi tekad yang tertanam di dalam jiwa.
Selempang pedang kini basah oleh peluh, namun tak sedikitpun surut langkah kaki,
Karena kesatria sejati tahu satu perkara, kehormatan lebih berharga dari nyawa sendiri.
XIII
Ketika malam turun menyelimuti medan, sunyi mencekam menyisakan duka,
Namun esok pagi mentari kan terbit lagi, membawa harapan baru yang segar dijaga.
Pedang yang tadi berkilau ditempa amarah, kini beristirahat menanti fajar bangkit,
Sebab peperangan bukan hanya soal menang, tapi tentang jiwa yang tak pernah sedikit.
XIV
Wahai para kesatria yang membaca syair ini, jadikan bait ini sebagai pengingat abadi,
Bahwa keberanian bukanlah tanpa rasa takut, tapi berani melangkah walau hati bergetar sendiri.
Selempang yang tersandang bukan hanya kain, tapi lambang janji yang telah terikrar,
Untuk selalu berdiri di depan tanpa gentar, membela yang benar hingga nafas terakhir.
Maka berhentilah sejenak wahai pembaca budiman, renungkanlah makna di balik setiap kata,
sebab syair ini bukan sekadar untaian sajak, tapi seruan bagi jiwa yang mulai lupa akan makna juang sesungguhnya.
Pedang boleh disarungkan, api boleh mereda dari kobarannya, namun semangat yang membara dalam dada,
haruslah tetap menyala meski zaman telah berubah rupa. Selempang boleh dilepas dari bahu yang lelah,
tapi kehormatan dan keberanian, biarlah terus tersandang di dalam jiwa selama-lamanya.
— T A M A T —
Tidak ada komentar:
Posting Komentar