Rabu, 19 Agustus 2026

Disalahkan dan Dipuji

Dua Cerita dari Tanah Abang

 

Pembuka

Jalan-jalan di Tanah Abang
Tiada kantung berisi uang
Kala kembali ditanya barang
Bilang itu tanah luas bukan kepalang

Puisi kecil ini menjadi pintu pembuka bagi dua kisah ringan—tentang seorang pria tua dan seorang pria kecil. Dua sosok berbeda generasi, namun sama-sama hidup dalam keseharian yang sederhana, penuh warna, dan sarat makna. Cerita mereka bukan kisah besar, melainkan obrolan ringan yang cocok menemani secangkir kopi sore.

Tentang Tanah, Uang, dan Isi Kepala

Bukan apa yang ditanya, tapi bagaimana kepala memutar jawabannya. Bicara tentang tanah luas, seolah mengukur sesuatu yang tak kasat mata—seberapa besar, seberapa bernilai, seberapa repot membayangkannya. Seperti pergi ke pasar tanpa uang, lalu pulang tanpa buah tangan. Dalam bahasa apa pun, tetap saja: semua butuh sesuatu untuk diisi.

Nutrisi biar sebatas pengisi
Gizi bikin otot berisi
Zat makanan penambah kekuatan
Nutrien pelengkap selfie makin keren
Unsur organik, penontonnya naik

Namun, bila semua itu tak pernah ada, makna hanya menempati halaman definisi—tak ubahnya beton tanpa penghuni, sisa masa lalu yang kehilangan denyutnya.

Riuh dan Sunyi

Kerusuhan yang ditawarkan
Kekacauan lalu bermunculan
Pergolakan tidak dapat dikendalikan
Huru-hara seolah babak sandiwara
Keributan didengar telinga dirapatkan
Konflik hanya kesalahpahaman

Di tengah hiruk-pikuk dunia, manusia tetap mencari tawa. Bahkan dalam mitologi, para dewa pun punya caranya sendiri untuk bercanda.

Dewa Siwa, juga dewa mereka yang memuja,
Yang lain juga bicara dengan cara mitologinya.
Nggak mau dianggap gitu, mencoba metodeloginya,
Yang nggak ngerti, siapa larang pakai giginya!
Dulu-dulu bro, sekarang-sekarang!
Memanas obrolan, dipudarkan tawa.
Muncul wajah di layar, lebar tawa Si Tua.
Dia yang juga dulu pernah muda,
Yang muda dan belum pernah tua,
Kini terhenti, sama-sama tertawa.
Dipenuhi rasa ingin tahu—siapa dia?

Cerita Pertama: Ong Ba, Si Tua yang Tak Mau Diam

Sosok dan Penampilan

Ong Ba—atau Kakek Ba—adalah lansia berusia 75 tahun yang rambutnya telah seputih kapas, disisir rapi ke belakang dengan gaya klasik Asia Tenggara era 60-an. Kulitnya cokelat matang, penuh kerutan yang bercerita. Matanya sipit, namun binarnya tajam dan hidup. Tubuhnya kurus tapi liat, langkahnya masih mantap meski pundaknya sedikit membungkuk.

Ia selalu mengenakan kemeja katun tipis dan celana safari longgar, lengkap dengan topi fedora tua. Sandal jepit atau sepatu kanvas lusuh menjadi teman setianya. Ia bukan sekadar tua—ia hidup dengan semangat yang menolak layu.

Jiwa yang Tak Mau Diam

Bagi Ong Ba, berhenti bergerak berarti menyerah pada usia. Setiap pagi ia berjalan ke kedai kopi, menikmati Cà phê sữa đá sambil berbincang dengan sesama lansia. Siang hari, ia menjelajahi pasar atau gang-gang kota, menikmati semilir angin dan hiruk kehidupan. Dunia luar adalah panggung kecilnya.

Namun, musuh terbesarnya bukan penyakit, melainkan anak bungsunya sendiri—sang penjaga yang terlalu sayang.

Sang Penghalang Kesayangan

Anak bungsu Ong Ba memperlakukannya seperti porselen rapuh. Setiap kali Ong Ba hendak keluar rumah, selalu ada alasan untuk menahannya:

Ritual kecil ini menjadi drama harian mereka—tarik-ulur antara kebebasan dan kasih sayang. Sebuah bentuk cinta yang lucu, hangat, dan melelahkan.

Cerita Kedua: Drama Bulu Ayam

Kakek dan Cucu

Di balik keras kepalanya, Ong Ba adalah kakek yang lembut. Ia selalu membawa permen wijen atau mainan kayu di saku kemejanya untuk cucu-cucunya. Namun, yang paling ia sayangi adalah cucu termuda—balita lucu anak dari si bungsu yang protektif itu. Bagi Ong Ba, cucu kecil ini adalah cerminan dirinya di masa lalu: polos, lembut, dan harus dijaga.

Anak Bungsu yang Jahil

Si bungsu, meski penuh kasih, punya kebiasaan jahil. Ia sering mencabut sehelai bulu ayam dari kemoceng tua, lalu menggelitik hidung bayinya yang sedang tidur hanya untuk melihat reaksi lucu. Bagi Ong Ba, itu bukan lelucon—itu dosa besar terhadap ketenangan.

Fragmen Siang Hari

Sore itu, rumah tenang. Angin berembus lembut, bayi tidur pulas di kasur lipat. Ong Ba duduk di kursi rotan, menatap cucunya dengan kasih. Lalu datanglah si bungsu, melangkah pelan dengan bulu ayam di tangan.

Namun si bungsu tetap melanjutkan aksinya. Sang bayi bersin kecil, menggeliat, lalu menangis. Seketika, Ong Ba berdiri, sandal jepitnya menampar lantai keras. Ia merebut bulu ayam itu, mematahkannya dua, dan menuding anaknya dengan amarah yang membara.

Si bungsu terdiam, lalu berakting dramatis, memegangi dada seolah terluka.

Ong Ba mengancam akan pergi ke Hanoi seminggu penuh. Si bungsu panik, memohon ampun. Sementara itu, sang bayi—yang menjadi pusat drama—sudah bangun, duduk, dan bertepuk tangan gembira melihat pertunjukan sore keluarganya.

Penutup

Dua cerita ini, dari Tanah Abang hingga rumah Ong Ba, sama-sama berbicara tentang hal yang sederhana: manusia dan kebiasaannya. Tentang cinta yang kadang berlebihan, tentang tawa yang muncul di tengah kesalahpahaman, dan tentang hidup yang terus berjalan meski kantung kosong atau rambut memutih.

Karena pada akhirnya, hidup memang tak selalu butuh banyak uang atau tanah luas—cukup sedikit tawa, secangkir kopi, dan cerita yang bisa dibagikan.

Syair Selempang Pedang

Syair Selempang Pedang
Syair Selempang Pedang
— nyanyian api di medan laga —
Dengarlah gemuruh sebelum fajar menyingsing, tanda genderang perang mula dipalu, seorang kesatria bangkit dari sujud sepinya, selempang pedang tersandang di bahu tak ragu. Bukan minyak yang mengkilapkan tubuhnya kini, bukan pula wangi yang dicari agar dipuja, melainkan keringat yang bercampur darah suci, mengalir jadi saksi tekad yang tak pernah sirna. Maka bacalah bait demi bait yang membara ini, bukan sekadar kata yang disusun tanpa jiwa, tapi seruan yang membangkitkan singa tidur di dada, agar bangkit menghunus tanpa ragu dan gentar.
I
Pedang terhunus di ufuk senja, berkilau bagai bara yang menyala, Bukan untuk gagah semata dimata, tapi sumpah yang telah terpatri lama. Selempang kain merah melilit dada, tanda darah yang siap dipertaruhkan, Setiap kesatria yang berdiri gagah, tak gentar walau lawan seribu barisan.
II
Bukan cairan wangi yang dioleskan, bukan pula minyak agar tubuh berkilau, Yang membalur raga sang pendekar perang, hanyalah peluh perjuangan yang syahdu. Ia tak butuh sari kelapa yang asli, ataupun getah tanaman nan harum semerbak, Cukup baginya darah yang mengalir gagah, sebagai bukti nyata bukan sekadar kelakar.
III
Diminyaki bukan agar orang terpesona, bukan agar dikenang gagahnya semata, Tapi agar musuh yang berdiri di seberang, gentar melihat sinar mata yang membara. Kilauan pedang lebih tajam dari kata, memantulkan cahaya di tengah kegelapan, Setiap ayunan membawa maut mendekat, bagi siapa yang berani menghalangi jalan.
IV
Angin berhembus membawa bau mesiu, bercampur debu dari tapak kaki pasukan, Setiap hembusan bagai sembilu tajam, menikam jantung lawan hingga tunggang langgang. Panas membakar bukan hanya di kulit, tapi menjalar sampai ke ulu hati, Kobaran semangat tak bisa dipadamkan, walau hujan panah datang bertubi-tubi.
V
Genderang ditabuh menggetarkan tanah, seruling perang melengking di udara, Kuda-kuda perang meringkik garang, siap menerjang siapapun yang menghadang. Debu mengepul bagai kabut kelabu, menutupi ufuk yang tadinya cerah, Namun mata sang kesatria tetap awas, menatap tajam ke arah musuh yang gerah.
VI
Tak ada waktu tuk berdiam lama, tak ada ruang tuk mundur ke belakang, Yang ada hanya maju atau tumbang, gugur sebagai pahlawan bukan pecundang. Setiap langkah adalah taruhan nyawa, setiap tebasan adalah doa yang dipanjatkan, Biarlah tubuh ini hancur di medan juang, asalkan marwah tetap terjaga dan terpandang.
VII
Lawan yang gagah mulai goyah langkahnya, melihat barisan tak gentar sedikitpun, Tombak dan perisai berbenturan keras, suara logam memekakkan seantero alun. Teriakan perang membelah cakrawala, menggetarkan jiwa yang lemah tak berdaya, Siapa yang berani hadapi murka ini, hanya mereka yang benar-benar berjiwa baja.
VIII
Kengerian menjalar di barisan lawan, tunggang langgang mencari jalan lari, Namun pedang membara tak kenal ampun, mengejar hingga ke ujung negeri. Bukan karena dendam yang membutakan, tapi karena harga diri yang dipertahankan, Tanah tumpah darah tak boleh diinjak, oleh kaki yang datang tuk merampas kehormatan.

IX
Matahari tenggelam berwarna merah saga, seolah ikut menangis melihat pertikaian, Namun di dada kesatria tak ada gentar, hanya nyala api yang terus dikobarkan. Ia berdiri tegak di antara reruntuhan, selempang pedang basah oleh peluh dan darah, Matanya menatap ke depan tanpa gentar, karena baginya mundur adalah sebuah dosa.
X
Bukan kilau minyak yang membuat gagah, bukan pula wangi yang membuat disegani, Tapi luka yang menghiasi setiap jengkal tubuh, menjadi bukti pengorbanan sejati. Ia tak pernah sadar berapa lama bertahan, di tanah yang telah dijaganya sekian lama, Namun satu yang pasti tertanam di dadanya, tanah ini tak akan pernah ia serahkan begitu saja.
XI
Setiap tetes darah yang jatuh ke bumi, menjadi saksi bisu perjuangan yang panjang, Setiap jasad yang terkapar di medan juang, adalah kisah yang takkan pernah hilang. Biarlah nama tak tercatat dalam prasasti, cukuplah bumi yang menjadi saksi, Bahwa pernah ada jiwa yang berani berdiri, mempertahankan marwah hingga mati.
XII
Api dalam dada tak pernah padam, walau raga penat dan luka menganga, Sebab semangat bukan perkara fisik semata, tapi tekad yang tertanam di dalam jiwa. Selempang pedang kini basah oleh peluh, namun tak sedikitpun surut langkah kaki, Karena kesatria sejati tahu satu perkara, kehormatan lebih berharga dari nyawa sendiri.
XIII
Ketika malam turun menyelimuti medan, sunyi mencekam menyisakan duka, Namun esok pagi mentari kan terbit lagi, membawa harapan baru yang segar dijaga. Pedang yang tadi berkilau ditempa amarah, kini beristirahat menanti fajar bangkit, Sebab peperangan bukan hanya soal menang, tapi tentang jiwa yang tak pernah sedikit.
XIV
Wahai para kesatria yang membaca syair ini, jadikan bait ini sebagai pengingat abadi, Bahwa keberanian bukanlah tanpa rasa takut, tapi berani melangkah walau hati bergetar sendiri. Selempang yang tersandang bukan hanya kain, tapi lambang janji yang telah terikrar, Untuk selalu berdiri di depan tanpa gentar, membela yang benar hingga nafas terakhir.
Maka berhentilah sejenak wahai pembaca budiman, renungkanlah makna di balik setiap kata, sebab syair ini bukan sekadar untaian sajak, tapi seruan bagi jiwa yang mulai lupa akan makna juang sesungguhnya. Pedang boleh disarungkan, api boleh mereda dari kobarannya, namun semangat yang membara dalam dada, haruslah tetap menyala meski zaman telah berubah rupa. Selempang boleh dilepas dari bahu yang lelah, tapi kehormatan dan keberanian, biarlah terus tersandang di dalam jiwa selama-lamanya.
— T A M A T —

Cerita Senja 1

Sudah lewat dari dua belas tahun lebih, berarti atau tidak menggerakkan tinta terkadang menjaga akal tetap waras dan kemampuan serta fungsi ...