Sabtu, 05 September 2026

Cerita Senja 1

Sudah lewat dari dua belas tahun lebih, berarti atau tidak menggerakkan tinta terkadang menjaga akal tetap waras dan kemampuan serta fungsi memori tetap terjaga. 
Ini tentang pengalaman pribadi pada suatu malam, yang semuanya bagai kebetulan belaka. 
Saat mengunjungi kerabat yang telah memberi kabar, yang secara tidak langsung juga mengundang untuk datang. 
Ini adalah tentang rencananya untuk pindah di rumah barunya. 
Namun setibanya di sana ia sudah selesai pindahan, barang-barang dan perabot bahkan hampir sudah tersusun semua. 
Kedatangan kerumahnya membawa pickup dengan tujuan untuk membantu, dan meringankannya tentu tidak terpakai, namun ternyata ia sengaja demikian karena ia beralasan tidak mau merepotkanku katanya, jadi ia mengabari setelah semua nyaris kelar. 
Kedatangan bukan lagi untuk angkat-angkat,tentu tinggal keliling melihat-lihat menyalami sekeluarga untuk ngobrol dan ngopi. 
Namun saya tidak sadar bahwa sejak kedatangan di rumah itu ada seseorang yang duduk diam dan mengamatiku sejak kedatangan, dan setelah menyadari ada seseorang di salah satu kursi ruang tengah, aku mendekati untuk menyalami beliau. Ketenangan dan wibawanya menyambut tanganku sambil bertanya lirih, "Ngerti opo ora karo sing mbok nggo kui? ". Beliau dengan telunjuk keriput namun tegas menunjuk pada gambar yang ada di baju yang ku kenakan. 
" Nggih ngertos sanget, Mbah! "
Beliau manggut-manggut sambil tersenyum ramah dan hangat, sambil memberi isyarat agar aku duduk dekat dengan beliau. 
"Aku tak krungu coba crita, sopo kui" Beliau ingin saya berpendapat dan bercerita tentang tokoh terkenal yang ia maksud. 

Belum sempat saya bicara, tuan rumah sudah menghampiri, sang istri membawa kopi dan sang suami mengenalkan tentang simbah dan pertemuannya dengan beliau yang bagai kebetulan. Saat ia lewat di tempat Simbah (mungkin saat mengirim barang di suatu daerah bernama Tanjung Bintang) beliau sudah bisa membaca keadaan dan rencana saya, beliau pesan, "besok kalau pindahan rumah, saya dijemput ya nanti saya yang pindahkan." "Jadi Simbah ini sudah dua malam ada di sini. " Jelas tuan rumah sambil mempersilahkan minum kopi. 
Mungkin karena kebetulan ada kesamaan nama beliau dengan gambar di baju, maka sangat ingin beliau juga mendengar kisah tentang tokoh kenamaan itu dalam versi saya. Sebenarnya dialah kemudian yang lebih banyak bisa menceritakan tentang sang tokoh dalam kacamata yang sama sekali dari sudut pandang yang tidak biasa bagi saya, juga hal baru yang tidak kutahu dari buku sejarah

Peristiwa yang juga mengagetkan bukan pada saat ngopi dan suasana ngobrol, tapi pada saat pulang, karena setelah keluar dari pekarangan tepat di depan mobil dihadang ular welang yang besar yang membuat saya berhenti beberapa saat. 
Setelah ia pergi saya baru jalan lagi, dan karena ular itu mengarah ke rumah baru itu, maka sambil jalan kutelpon tuan rumah memberi kabar, kalau-kalau ia menelusup ke rumahnya. 
Jadi obrolan malam itu terasa lengkap baik tentang gambar, orang, rumah dan kenalan baru juga binatang, hal biasa yang dialami oleh orang-orang biasa. 

Rabu, 19 Agustus 2026

Disalahkan dan Dipuji

Dua Cerita dari Tanah Abang

 

Pembuka

Jalan-jalan di Tanah Abang
Tiada kantung berisi uang
Kala kembali ditanya barang
Bilang itu tanah luas bukan kepalang

Puisi kecil ini menjadi pintu pembuka bagi dua kisah ringan—tentang seorang pria tua dan seorang pria kecil. Dua sosok berbeda generasi, namun sama-sama hidup dalam keseharian yang sederhana, penuh warna, dan sarat makna. Cerita mereka bukan kisah besar, melainkan obrolan ringan yang cocok menemani secangkir kopi sore.

Tentang Tanah, Uang, dan Isi Kepala

Bukan apa yang ditanya, tapi bagaimana kepala memutar jawabannya. Bicara tentang tanah luas, seolah mengukur sesuatu yang tak kasat mata—seberapa besar, seberapa bernilai, seberapa repot membayangkannya. Seperti pergi ke pasar tanpa uang, lalu pulang tanpa buah tangan. Dalam bahasa apa pun, tetap saja: semua butuh sesuatu untuk diisi.

Nutrisi biar sebatas pengisi
Gizi bikin otot berisi
Zat makanan penambah kekuatan
Nutrien pelengkap selfie makin keren
Unsur organik, penontonnya naik

Namun, bila semua itu tak pernah ada, makna hanya menempati halaman definisi—tak ubahnya beton tanpa penghuni, sisa masa lalu yang kehilangan denyutnya.

Riuh dan Sunyi

Kerusuhan yang ditawarkan
Kekacauan lalu bermunculan
Pergolakan tidak dapat dikendalikan
Huru-hara seolah babak sandiwara
Keributan didengar telinga dirapatkan
Konflik hanya kesalahpahaman

Di tengah hiruk-pikuk dunia, manusia tetap mencari tawa. Bahkan dalam mitologi, para dewa pun punya caranya sendiri untuk bercanda.

Dewa Siwa, juga dewa mereka yang memuja,
Yang lain juga bicara dengan cara mitologinya.
Nggak mau dianggap gitu, mencoba metodeloginya,
Yang nggak ngerti, siapa larang pakai giginya!
Dulu-dulu bro, sekarang-sekarang!
Memanas obrolan, dipudarkan tawa.
Muncul wajah di layar, lebar tawa Si Tua.
Dia yang juga dulu pernah muda,
Yang muda dan belum pernah tua,
Kini terhenti, sama-sama tertawa.
Dipenuhi rasa ingin tahu—siapa dia?

Cerita Pertama: Ong Ba, Si Tua yang Tak Mau Diam

Sosok dan Penampilan

Ong Ba—atau Kakek Ba—adalah lansia berusia 75 tahun yang rambutnya telah seputih kapas, disisir rapi ke belakang dengan gaya klasik Asia Tenggara era 60-an. Kulitnya cokelat matang, penuh kerutan yang bercerita. Matanya sipit, namun binarnya tajam dan hidup. Tubuhnya kurus tapi liat, langkahnya masih mantap meski pundaknya sedikit membungkuk.

Ia selalu mengenakan kemeja katun tipis dan celana safari longgar, lengkap dengan topi fedora tua. Sandal jepit atau sepatu kanvas lusuh menjadi teman setianya. Ia bukan sekadar tua—ia hidup dengan semangat yang menolak layu.

Jiwa yang Tak Mau Diam

Bagi Ong Ba, berhenti bergerak berarti menyerah pada usia. Setiap pagi ia berjalan ke kedai kopi, menikmati Cà phê sữa đá sambil berbincang dengan sesama lansia. Siang hari, ia menjelajahi pasar atau gang-gang kota, menikmati semilir angin dan hiruk kehidupan. Dunia luar adalah panggung kecilnya.

Namun, musuh terbesarnya bukan penyakit, melainkan anak bungsunya sendiri—sang penjaga yang terlalu sayang.

Sang Penghalang Kesayangan

Anak bungsu Ong Ba memperlakukannya seperti porselen rapuh. Setiap kali Ong Ba hendak keluar rumah, selalu ada alasan untuk menahannya:

Ritual kecil ini menjadi drama harian mereka—tarik-ulur antara kebebasan dan kasih sayang. Sebuah bentuk cinta yang lucu, hangat, dan melelahkan.

Cerita Kedua: Drama Bulu Ayam

Kakek dan Cucu

Di balik keras kepalanya, Ong Ba adalah kakek yang lembut. Ia selalu membawa permen wijen atau mainan kayu di saku kemejanya untuk cucu-cucunya. Namun, yang paling ia sayangi adalah cucu termuda—balita lucu anak dari si bungsu yang protektif itu. Bagi Ong Ba, cucu kecil ini adalah cerminan dirinya di masa lalu: polos, lembut, dan harus dijaga.

Anak Bungsu yang Jahil

Si bungsu, meski penuh kasih, punya kebiasaan jahil. Ia sering mencabut sehelai bulu ayam dari kemoceng tua, lalu menggelitik hidung bayinya yang sedang tidur hanya untuk melihat reaksi lucu. Bagi Ong Ba, itu bukan lelucon—itu dosa besar terhadap ketenangan.

Fragmen Siang Hari

Sore itu, rumah tenang. Angin berembus lembut, bayi tidur pulas di kasur lipat. Ong Ba duduk di kursi rotan, menatap cucunya dengan kasih. Lalu datanglah si bungsu, melangkah pelan dengan bulu ayam di tangan.

Namun si bungsu tetap melanjutkan aksinya. Sang bayi bersin kecil, menggeliat, lalu menangis. Seketika, Ong Ba berdiri, sandal jepitnya menampar lantai keras. Ia merebut bulu ayam itu, mematahkannya dua, dan menuding anaknya dengan amarah yang membara.

Si bungsu terdiam, lalu berakting dramatis, memegangi dada seolah terluka.

Ong Ba mengancam akan pergi ke Hanoi seminggu penuh. Si bungsu panik, memohon ampun. Sementara itu, sang bayi—yang menjadi pusat drama—sudah bangun, duduk, dan bertepuk tangan gembira melihat pertunjukan sore keluarganya.

Penutup

Dua cerita ini, dari Tanah Abang hingga rumah Ong Ba, sama-sama berbicara tentang hal yang sederhana: manusia dan kebiasaannya. Tentang cinta yang kadang berlebihan, tentang tawa yang muncul di tengah kesalahpahaman, dan tentang hidup yang terus berjalan meski kantung kosong atau rambut memutih.

Karena pada akhirnya, hidup memang tak selalu butuh banyak uang atau tanah luas—cukup sedikit tawa, secangkir kopi, dan cerita yang bisa dibagikan.

Syair Selempang Pedang

Syair Selempang Pedang
Syair Selempang Pedang
— nyanyian api di medan laga —
Dengarlah gemuruh sebelum fajar menyingsing, tanda genderang perang mula dipalu, seorang kesatria bangkit dari sujud sepinya, selempang pedang tersandang di bahu tak ragu. Bukan minyak yang mengkilapkan tubuhnya kini, bukan pula wangi yang dicari agar dipuja, melainkan keringat yang bercampur darah suci, mengalir jadi saksi tekad yang tak pernah sirna. Maka bacalah bait demi bait yang membara ini, bukan sekadar kata yang disusun tanpa jiwa, tapi seruan yang membangkitkan singa tidur di dada, agar bangkit menghunus tanpa ragu dan gentar.
I
Pedang terhunus di ufuk senja, berkilau bagai bara yang menyala, Bukan untuk gagah semata dimata, tapi sumpah yang telah terpatri lama. Selempang kain merah melilit dada, tanda darah yang siap dipertaruhkan, Setiap kesatria yang berdiri gagah, tak gentar walau lawan seribu barisan.
II
Bukan cairan wangi yang dioleskan, bukan pula minyak agar tubuh berkilau, Yang membalur raga sang pendekar perang, hanyalah peluh perjuangan yang syahdu. Ia tak butuh sari kelapa yang asli, ataupun getah tanaman nan harum semerbak, Cukup baginya darah yang mengalir gagah, sebagai bukti nyata bukan sekadar kelakar.
III
Diminyaki bukan agar orang terpesona, bukan agar dikenang gagahnya semata, Tapi agar musuh yang berdiri di seberang, gentar melihat sinar mata yang membara. Kilauan pedang lebih tajam dari kata, memantulkan cahaya di tengah kegelapan, Setiap ayunan membawa maut mendekat, bagi siapa yang berani menghalangi jalan.
IV
Angin berhembus membawa bau mesiu, bercampur debu dari tapak kaki pasukan, Setiap hembusan bagai sembilu tajam, menikam jantung lawan hingga tunggang langgang. Panas membakar bukan hanya di kulit, tapi menjalar sampai ke ulu hati, Kobaran semangat tak bisa dipadamkan, walau hujan panah datang bertubi-tubi.
V
Genderang ditabuh menggetarkan tanah, seruling perang melengking di udara, Kuda-kuda perang meringkik garang, siap menerjang siapapun yang menghadang. Debu mengepul bagai kabut kelabu, menutupi ufuk yang tadinya cerah, Namun mata sang kesatria tetap awas, menatap tajam ke arah musuh yang gerah.
VI
Tak ada waktu tuk berdiam lama, tak ada ruang tuk mundur ke belakang, Yang ada hanya maju atau tumbang, gugur sebagai pahlawan bukan pecundang. Setiap langkah adalah taruhan nyawa, setiap tebasan adalah doa yang dipanjatkan, Biarlah tubuh ini hancur di medan juang, asalkan marwah tetap terjaga dan terpandang.
VII
Lawan yang gagah mulai goyah langkahnya, melihat barisan tak gentar sedikitpun, Tombak dan perisai berbenturan keras, suara logam memekakkan seantero alun. Teriakan perang membelah cakrawala, menggetarkan jiwa yang lemah tak berdaya, Siapa yang berani hadapi murka ini, hanya mereka yang benar-benar berjiwa baja.
VIII
Kengerian menjalar di barisan lawan, tunggang langgang mencari jalan lari, Namun pedang membara tak kenal ampun, mengejar hingga ke ujung negeri. Bukan karena dendam yang membutakan, tapi karena harga diri yang dipertahankan, Tanah tumpah darah tak boleh diinjak, oleh kaki yang datang tuk merampas kehormatan.

IX
Matahari tenggelam berwarna merah saga, seolah ikut menangis melihat pertikaian, Namun di dada kesatria tak ada gentar, hanya nyala api yang terus dikobarkan. Ia berdiri tegak di antara reruntuhan, selempang pedang basah oleh peluh dan darah, Matanya menatap ke depan tanpa gentar, karena baginya mundur adalah sebuah dosa.
X
Bukan kilau minyak yang membuat gagah, bukan pula wangi yang membuat disegani, Tapi luka yang menghiasi setiap jengkal tubuh, menjadi bukti pengorbanan sejati. Ia tak pernah sadar berapa lama bertahan, di tanah yang telah dijaganya sekian lama, Namun satu yang pasti tertanam di dadanya, tanah ini tak akan pernah ia serahkan begitu saja.
XI
Setiap tetes darah yang jatuh ke bumi, menjadi saksi bisu perjuangan yang panjang, Setiap jasad yang terkapar di medan juang, adalah kisah yang takkan pernah hilang. Biarlah nama tak tercatat dalam prasasti, cukuplah bumi yang menjadi saksi, Bahwa pernah ada jiwa yang berani berdiri, mempertahankan marwah hingga mati.
XII
Api dalam dada tak pernah padam, walau raga penat dan luka menganga, Sebab semangat bukan perkara fisik semata, tapi tekad yang tertanam di dalam jiwa. Selempang pedang kini basah oleh peluh, namun tak sedikitpun surut langkah kaki, Karena kesatria sejati tahu satu perkara, kehormatan lebih berharga dari nyawa sendiri.
XIII
Ketika malam turun menyelimuti medan, sunyi mencekam menyisakan duka, Namun esok pagi mentari kan terbit lagi, membawa harapan baru yang segar dijaga. Pedang yang tadi berkilau ditempa amarah, kini beristirahat menanti fajar bangkit, Sebab peperangan bukan hanya soal menang, tapi tentang jiwa yang tak pernah sedikit.
XIV
Wahai para kesatria yang membaca syair ini, jadikan bait ini sebagai pengingat abadi, Bahwa keberanian bukanlah tanpa rasa takut, tapi berani melangkah walau hati bergetar sendiri. Selempang yang tersandang bukan hanya kain, tapi lambang janji yang telah terikrar, Untuk selalu berdiri di depan tanpa gentar, membela yang benar hingga nafas terakhir.
Maka berhentilah sejenak wahai pembaca budiman, renungkanlah makna di balik setiap kata, sebab syair ini bukan sekadar untaian sajak, tapi seruan bagi jiwa yang mulai lupa akan makna juang sesungguhnya. Pedang boleh disarungkan, api boleh mereda dari kobarannya, namun semangat yang membara dalam dada, haruslah tetap menyala meski zaman telah berubah rupa. Selempang boleh dilepas dari bahu yang lelah, tapi kehormatan dan keberanian, biarlah terus tersandang di dalam jiwa selama-lamanya.
— T A M A T —

Minggu, 19 Juli 2026

NUansa SePADAn

 

NUansa SePADAn: Siapa Bilang Susah Klik?

NUansa SePADAn: Siapa Bilang Susah Klik?

Pernah nggak sih kalian ketemu sama orang yang baru kenal, tapi rasanya langsung nyambung banget kayak udah kenal lama? Obrolan mengalir lancar, ide-ide muncul, bahkan hal-hal receh pun bisa jadi bahan ketawa. Nah, itu dia yang sering kita sebut sebagai "sepadan" atau "klik" dalam percakapan.

Tapi, jangan salah. Ada juga lho, orang yang udah ketemu berkali-kali, ngobrol pun seadanya, rasanya kayak ada tembok tipis yang memisahkan. Diskusi yang seru jadi agak sulit terwujud, padahal mungkin aja punya banyak kesamaan. Kadang kita bilang, "kok nggak satu frekuensi ya?" Padahal, kesamaan hobi, daerah asal, almamater, nasib (ups!), atau bahkan tujuan hidup, belum tentu menjamin kita langsung "sepadan" dalam obrolan.

Mengapa Kadang Sulit "Klik"?

Nah, ini dia nih yang bikin penasaran. Kenapa ada orang yang gampang banget jadi "sepadan" sama siapa pun, sementara yang lain butuh waktu lebih lama, atau bahkan nggak pernah terwujud? Mungkin ada beberapa "trik" atau "siasat" yang bisa kita pelajari, tapi ingat, ini bukan buat menggurui, cuma sekadar berbagi pengalaman ringan.

Contoh situazioni:

  • Menghindari debat kusir: Kalau lawan bicara lagi nggak mood atau nggak tertarik buat berdebat, ngapain dipaksakan? Nanti malah jadi drama yang nggak perlu. Lebih baik cari topik lain yang lebih menyenangkan.
  • Pilih kasih dalam penjelasan: Nggak semua orang butuh penjelasan panjang lebar. Kalau memang nggak nyambung, apalagi kalau dia kayaknya nggak peduli, ya sudahlah. Hemat energi, hemat kata-kata.
  • Menghargai itu kunci: Ini paling penting! Mau seberapa "pintar" kita, kalau nggak bisa menghargai lawan bicara, ya percuma. Dengarkan baik-baik, jangan memotong seenaknya, dan tunjukkan kalau kita tertarik dengan apa yang dia sampaikan.
  • Menjaga sikap pada si "sok tahu": Ada aja kan, orang yang merasa paling tahu segalanya? Kalau ketemu yang begini, kadang senyum saja sudah cukup. Atau kalau memang gemesin banget, bisa dibalas dengan candaan ringan yang nggak menyinggung.
  • Pertanyaan yang lebih "menggugah": Daripada bertanya "apa kabar?", coba deh yang lebih spesifik dan kreatif. Misalnya, "Apa hal paling seru yang kamu alami minggu ini?" atau "Ada proyek menarik yang lagi kamu kerjakan?". Ini bisa membuka percakapan yang lebih dalam.
  • Siasat "level di atas": Kadang, menempatkan diri sedikit lebih "tinggi" dalam percakapan bisa jadi strategi. Tapi ingat, ini bukan untuk mendominasi atau merendahkan. Gunakan sesekali saja, untuk memandu arah obrolan atau memberikan perspektif baru. Jangan sampai jadi sombong, ya!

Jadi, Gimana Biar Jadi "Sepadan" Sama Siapa Pun?

Sebenarnya, nggak ada formula ajaib untuk menjadi "sepadan" dengan semua orang. Tapi, banyak orang yang berhasil melakukannya. Mereka ini seperti "master" dalam seni percakapan. Apa sih rahasianya?

Intinya, mereka punya kemampuan untuk membaca situasi dan lawan bicara. Mereka tahu kapan harus serius, kapan harus bercanda, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus memberi masukan. Mereka juga punya energi positif yang menular, sehingga orang lain merasa nyaman dan terbuka.

Mungkin kita bisa belajar dari mereka. Perhatikan bagaimana mereka berinteraksi, bagaimana mereka merespons, dan bagaimana mereka membuat orang lain merasa dihargai. Nggak perlu jadi orang lain, cukup ambil sisi-sisi positifnya dan adaptasikan dengan kepribadian kita sendiri.

Jadi, jangan khawatir kalau belum semua orang terasa "sepadan". Teruslah berlatih, jadilah pendengar yang baik, dan yang terpenting, nikmati setiap proses percakapan. Siapa tahu, dengan sedikit usaha dan sikap yang tepat, kita bisa menemukan "NUansa SePADAn" di setiap interaksi!

 

Minggu, 18 Mei 2025

hajatrutinsidr: Sebagai Bagian Yang Tiada Terdengar

hajatrutinsidr: Sebagai Bagian Yang Tiada Terdengar: Meskipun sepasang roda itu kini telah terdiam Kuanggap ia sebagaimana ia telah memiliki kemampuannya Hal yang nyata telah dikerjakannya yakn...

Minggu, 11 Mei 2025

Berada Pada Timnya

ada sebutan, segampang anggap sebagai sebuah nama,
Tiada makna selain guna yang direkatkan menyambung sebuah pengertian yang telah jauh terpisah;
Namun bagi ia punya kalangan, mengatakan letak seberti benda terbungkus di dalam kotak merancukan kenyataan yang memang harus disampaikan;
TerLebih lagi, baginya yang telah lama dan sangat mendalam dalam telaah kontraksi diksi, menapakinya tanpa ragu akan kekayaannya terhadap fakta empiris yang mampu membawanya mampu keluar dari bermacam situasi dengan caranya tanpa orang lain sempat duga ...
Fakta yang hanya dia mampu jelaskan dengan tepat, dan benar; akan situasi waktu, musim, lingkungan dan banyak iringan peristiwa lain...

bukan tanpa alasan bila ia membiarkan bertumpuknya perkara atau masalah yang pernah sampai padanya, hingga dilihatnya; tentu bukan tanpa tujuan bila saat terbaiklah yang dipilihnya untuk bicara... akan hal itu.

Setidaknya menuju pada orang yang tepat, pembicaraan itu akan disampaikan, dan tidak semuanya serta merta menjadi konten murahan, apalagi berdaur ulang tanpa kendali jari-jari pemakai ai tanpa sempat mengenali apa sebenarnya isi hingga acap memantikkan jemu berulang kali mengganyang durasi;


cukup ia yang telah datang pada waktunya, mendapatkan apa yang ia sebenarnya cari; seperti apa yang telah mulai dan juga ia ingin bangun; sebagaimana ia punya cinta. Kepadamu atau yang lain yang tidak ingin mengerti, setidaknya dapat mengerti bahwa ada sisi lain yang lebih menarik untuk kau pandang dan membawa hatimu senang.


Jumat, 09 Mei 2025

Berletaknya Pengulik Duper

Timbang menimbang dua tangan turut dalam laku, 

Dibentang keduanya saling menjauh, 

Badan tetap berada letak, 

Tetap ia ditengah, 

Saat terhenti dan melangkah, 

Kebimbangan tidak menghentikannya, 

Ketahuan bila ragu pun tiada menyurutkan gairah, 

Tiada perlu padanya menanyakan lelah, 

Ketika aku hanya mampu pasrah, 

Ternyata dari sanalah munculnya seberkas cercah, 

Sekecil kunang-kunang di gulita malam membawakan arah, 

Terbang diantara daun-daun yang pernah dirundung resah, 

Sekuat tenaga dibuat tanpa melangkah, Menjauh dari terik menggapai rindu hatinya pada dalamnya penantian akan datangnya tetes yang mampu membasah, 

.... 

Condominium yang terlihat bukan satu-satunya penanda dan pengingat, masih menyisakan banyak bangunan dibalik kegelapan, lengkap dengan bubuhan pariwara telah semakin menjelas usai garis dibuat hingga saturasi bergeser pada tertimbunnya informasi pada belahan lain menyatu dilangit berwarna semakin merekah, 

Jari-jari terus berputar, setia bersama penunggang mengelilingi setiap sudut pandang, menjumpai mereka ditempatnya berada dengan memiliki setiap rangkai kata sebagai setianya super pengulik, telah melengkapi semua tangga hasrat bagai pagar-pagar penguat menyembunyikan bayangan super hero yang telah lama dicari-cari, namun selalu menghilang dari pandangan bahkan sebelum datangnya gelap. 

Pekatnya lalu lalang cerita yang berdatangan kala itu, tiada lain telah membeban langkah dan penghalang pandang apalagi bila penimbang harga tiada yang kunjung datang, bahkan tidak kurang panjangnya rencana kosong sering dijadikan jawaban tanpa melihat juang keseimbangan, akan awal laku yang hingga kini dipertaruhkan. 

Dengan tangan yang masih dibentangkan, hingga jauhnya titian yang telah dilewati pada ketinggian, samar-samar jauh di depan tampak di sana lambaian tangan-tangan mengisyaratkan sambutan. Betulkah ia melewati lebih tujuh puluh tahun semua bunyi-bunyian itu kelak masih relevan? Ia pun kini mulai ikutan mempertanyakan, akankah keseimbangan yang pernah diagungkan itu masih akan dibutuhkan di ujung penglihatan itu. 

... 

Tanpa heroiknya nada dan suara sebagai pesan, kisah itu tidak ingin menanyakan sebuah akhir. Ia.. Masih terus melangkah. 


Jumat, 14 Juni 2024

... Betulkah Hanya di Kepala?





Tidak.

Tentu saja 

tidak demikian.

Tempat kecerdasan

Tersebar merata di badan kita.


Katakan hampir pada semua bagian

sebenarnya dapat menyampaikan pesan

namun tidak semua bahasanya dapat dikenali

atau secara sadar dan langsung dapat kita tangkap

Mengapa demikian, tentu saja perancang yang hebat

Bahkan sangat sempurna membuat sistem dan kinerjanya


Sebagaimana rambut kepala milik kita juga orang lain di sekitar

yang dapat kita temui setiap hari secara umum dapat tumbuh panjang

bahkan beberapa orang ada yang memelihara hingga dibiarkan  panjang.

Mereka tidak perlu repot-repot memikirkan untuk rambut selain di kepala

misalnya rambut pada bagian kaki nanti akan ikut tumbuh sepanjang demikian,

tanpa perlu mencukur rambut bagian itu seolah sudah diatur beda daya tumbuhnya 

termasuk bagiandi dekat ujung jari pun semua bagian itu  sudah cerdas cara tumbuhnya.


 



Selasa, 23 April 2024

Betulkah Dari Nol ?

Usai menunggu beberapa waktu
Tidaklah berjam-jam
Saat yang ditunggu mendekat
Tibalah giliran
"Dari nol ya Kak"
beberapa menit saja selesai
"Udah full Kak"
Kemudian langsung saja
Kutinggalkan tempat pengisian
bahan bakar itu usai membayar

Yang dari nol
ada
itu bukan tanki kendaraan
juga bukan
tangki pengisi
miliknya SPBU itu
itu hanyalah angka
yang dipakaikan disana
tiada lain
sebagai pengukur....

"Sebentar...!"
teringat petugasnya ramah
juga lucu
ketika hampir terima uang
ia sempat meminta 
waktu 
menunda tangannya
untuk menerima uang
hanya untuk
garuk-garuk

"oh...."
ternyata baru saja
aku menyadari...
ternyata
dari tadi
ia menahan gatal...
sambil pegang kemudi...
kita memang harus mampu
bisa tetap tersenyum....
untuk pa?
ya... untuk tidak lupa
bagaimana cara tersenyum....



Ada Yang Tidak Kalah Penting dari Bakat Untuk Terus Maju, Dalam Hal Apa Misalnya ?

Meskipun sudah sejak lama menjadi pengalaman pria dan wanita untuk memperoleh manfaat dalam menambah pendapatan, memperoleh pengakuan, membuat aksi sosial dan kebersamaan hingga mengembangkan provesi individu dalam berkarya dan berkreasi menyambung kehidupan agar semakin berarti, ternyata peristiwa pada saat kita mengalami pandemi covid-19 telah semakin dapat dirasakan akan adanya perubahan cara tersebut yang seolah secara otomatis kita semua berusaha untuk mampu beradaptasi di dalamnya. Tidak kurang kecakapan dan cara baru seakan muncul dimana-mana yang tiada lain berawal dari keterpaksaan, atau tuntutan yang tidak dapat dihindari untuk mampu bertahan dalam situasi saat itu. Seperti baka-bakat baru juga muncul dihadapan wajah kita, yang karena suasana membuat semakin banyak orang bertambah kreatif untuk berinteraksi antar sesama, termasuk mereka cara untuk tetap dapat memperoleh rizky. Apa-apa saja yang saat itu dapat kita jumpai sebagai sesuatu yang memberikan manfaat secara ekonomi bagi kita, berikut ini adalah beberapa yang suatu saat juga dapat memberi tenaga bagi gagasan kita :

  1. Jualan Makanan Ringan/Jajan: Anda bisa menjual makanan ringan tradisional atau kue-kue homemade yang memiliki cita rasa unik. Ini bisa menjadi cara yang baik untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari keluarga serta meraih keuntungan dari penjualan kepada tetangga dan teman.
  2. Jualan Kerajinan Tangan: Jika Anda memiliki keterampilan dalam membuat kerajinan tangan seperti aksesori, dekorasi rumah, atau pakaian, Anda bisa menjual produk-produk tersebut secara online atau melalui acara lokal. Kerajinan tangan memiliki nilai artistik yang tinggi, dan banyak konsumen yang tertarik pada produk yang unik dan buatan tangan.
  3. Jasa Pijat: Menyediakan layanan pijat di rumah bagi pelanggan yang ingin relaksasi dan perawatan kesehatan.
  4. Jasa Penitipan Anak: Buka layanan penitipan anak untuk membantu orangtua yang membutuhkan pengasuhan sementara.
  5. Buka Layanan Laundry: Menawarkan layanan cuci dan setrika pakaian bagi tetangga dan teman.
  6. Jualan Online: Memulai bisnis online dengan menjual produk-produk seperti pakaian, aksesori, atau barang-barang rumah tangga.
  7. Guru Privat: Jika Anda memiliki keahlian dalam bidang tertentu, seperti matematika, bahasa, atau musik, Anda bisa menjadi guru privat.
  8. Membuat Kerajinan Tangan: Buat dan jual kerajinan tangan seperti tas, bunga dari kain flanel, atau perhiasan.
  9. Pengusaha Kuliner: Jika Anda memiliki bakat memasak, pertimbangkan untuk membuka usaha kuliner seperti warung makanan atau katering.
  10. Menjadi Food Blogger: Bagi yang suka menulis dan memiliki minat pada kuliner, menjadi food blogger bisa menjadi pilihan. Anda bisa berbagi resep, tips memasak, dan pengalaman kuliner.
  11. Youtuber: Jika Anda memiliki keterampilan dalam video editing dan suka berbicara di depan kamera, pertimbangkan untuk menjadi Youtuber dengan konten yang sesuai minat Anda.
  12. Bakat Menulis: Jika Anda suka menulis, pertimbangkan untuk menjadi penulis lepas atau blogger.
  13. Bakat Desain: Jika Anda memiliki bakat dalam desain grafis, pertimbangkan untuk membuka jasa desain.
  14. Bakat Mengajar: Jika Anda memiliki pengetahuan dalam bidang tertentu, seperti bahasa asing atau musik, Anda bisa menjadi guru privat.
  15. Bakat Kerajinan Tangan: Jika Anda suka membuat kerajinan tangan, pertimbangkan untuk menjual produk-produk buatan tangan.

Senin, 22 April 2024

Multi Ragam

Dalam komunikasi sehari-hari, kita seringkali menggunakan berbagai ragam secara bersamaan untuk menyampaikan pesan kita dengan lebih efektif. Berikut adalah penjelasan sederhananya:

  • Menggabungkan Ragam Informatif dan Ekspresif: Saat memberikan laporan atau instruksi (ragam informatif), kita mungkin juga mengekspresikan perasaan atau emosi (ragam ekspresif) untuk menekankan pentingnya informasi tersebut atau untuk membuatnya lebih menarik.

  • Menggabungkan Ragam Argumentatif dan Persuasif: Dalam berdiskusi atau berdebat, kita tidak hanya mengajukan argumen (ragam argumentatif) tetapi juga mencoba membujuk atau memengaruhi pendapat orang lain (ragam persuasif).

  • Menggabungkan Ragam Naratif dan Deskriptif: Ketika bercerita atau menceritakan pengalaman (ragam naratif), kita seringkali menggambarkan detail-detail tertentu (ragam deskriptif) untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan memperkaya cerita.

  • Menggabungkan Ragam Instruktif dan Negosiatif: Saat memberikan nasihat atau mengajukan solusi (ragam instruktif), kita mungkin juga terlibat dalam negosiasi (ragam negosiatif) untuk mencapai kesepakatan atau kompromi.

Penggabungan ragam ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih kompleks dan dinamis, memperkaya interaksi kita dengan orang lain, dan meningkatkan kemungkinan pesan kita diterima dengan baik.

Ragam Kreatif

 

Ragam ekspresif dalam seni dan sastra memungkinkan kita untuk menyampaikan emosi, berbagi pengalaman, dan menghubungkan diri kita dengan orang lain. Berikut adalah contoh dari setiap jenis ragam ekspresif yang Anda sebutkan:

Bercerita: Di sebuah desa kecil di tepi hutan, hiduplah seorang anak laki-laki yang bermimpi terbang. Setiap malam, dia bermimpi melintasi langit, menari dengan awan. Suatu hari, dia memutuskan untuk membuat sayap dari bulu dan lilin, bertekad untuk mewujudkan mimpinya.

Menulis Puisi:


Menulis puisi yang menggugah emosi membutuhkan pemilihan kata yang tepat, penciptaan gambaran yang kuat, dan penggunaan teknik sastra yang efektif. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat membantu Anda dalam menulis puisi yang menyentuh hati:

  1. Pilih Tema yang Beresonansi:

    • Pilih tema yang memiliki makna mendalam bagi Anda atau yang Anda rasa akan beresonansi dengan pembaca. Tema bisa berkisar dari cinta, kesedihan, kegembiraan, hingga refleksi sosial.
  2. Gunakan Bahasa yang Kaya:

    • Gunakan kata-kata yang kaya akan konotasi dan nuansa emosional. Kata-kata yang dipilih harus mampu membangkitkan citra dan perasaan di benak pembaca.
  3. Ciptakan Gambaran yang Kuat:

    • Gunakan metafora, simile, dan personifikasi untuk menciptakan gambaran yang kuat dan memungkinkan pembaca untuk ‘melihat’ apa yang Anda rasakan.
  4. Mainkan Ritme dan Bunyi:

    • Perhatikan ritme dan bunyi dalam puisi Anda. Aliterasi, asonansi, dan onomatope dapat menambah dimensi auditif yang memperkuat emosi puisi.
  5. Jelajahi Struktur dan Bentuk:

    • Eksperimen dengan struktur dan bentuk puisi. Soneta, haiku, atau bentuk bebas dapat memberikan kerangka yang unik untuk mengekspresikan emosi Anda.
  6. Berikan Ruang untuk Interpretasi:

    • Biarkan puisi Anda memiliki ruang untuk interpretasi. Pembaca akan terhubung lebih dalam jika mereka dapat menemukan makna pribadi dalam kata-kata Anda.
  7. Edit dengan Hati-hati:

    • Setelah menulis, baca kembali dan edit puisi Anda. Pastikan setiap kata dan baris mendukung emosi yang ingin Anda sampaikan.

Berikut adalah contoh puisi singkat yang menggugah emosi:

Di balik tirai malam yang sunyi,
Bintang-bintang berbisik rahasia.
Angin malam mengusap lembut,
Kenangan yang terpahat di hati.

Dalam diam, aku merenung,
Tentang cinta yang pernah bersemi.
Kini hanya tinggal kenangan,
Yang tersimpan dalam syair ini.

Ingatlah bahwa puisi adalah ekspresi pribadi, jadi tidak ada aturan yang kaku. Biarkan emosi Anda mengalir melalui kata-kata, dan jangan takut untuk mengekspresikan diri Anda dengan jujur dan penuh perasaan.


Menulis Lagu:

Bermain Peran: Sebagai Raja yang bijaksana, aku memerintah kerajaanku dengan hati yang penuh kasih. Setiap keputusan yang kubuat, aku pertimbangkan dengan cermat, memastikan bahwa setiap warga kerajaanku merasa aman dan sejahtera.

Menulis Genre Kesukaan....

Setiap bentuk ekspresi ini memiliki kekuatannya sendiri dalam menyampaikan pesan dan membangun koneksi

Ragam Interaktif

Dalam interaksi sosial, kita sering menggunakan berbagai metode komunikasi untuk mencapai tujuan yang berbeda. Berikut adalah penjelasan singkat tentang setiap metode yang Anda sebutkan:

Berdiskusi:

  • Berdiskusi adalah proses dua arah di mana individu berbagi ide dan informasi untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang suatu topik. Ini sering dilakukan dalam suasana yang kooperatif dan konstruktif.
  • Contoh: “Mari kita diskusikan tentang dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut.”

Berdebat:

  • Berdebat melibatkan pertukaran argumen yang berlawanan untuk membela atau menentang suatu ide atau pendapat. Ini sering kali lebih kompetitif dan bertujuan untuk meyakinkan orang lain.
  • Contoh: “Saya percaya bahwa energi terbarukan adalah masa depan, sementara Anda mungkin berpendapat bahwa kita masih membutuhkan bahan bakar fosil.”

Mewawancarai:

  • Mewawancarai adalah proses mengajukan serangkaian pertanyaan kepada seseorang untuk mendapatkan informasi atau pendapat mereka tentang suatu subjek.
  • Contoh: “Dalam wawancara ini, saya ingin mengetahui lebih banyak tentang pengalaman Anda bekerja di industri teknologi.”

Bermusyawarah:

  • Bermusyawarah adalah proses diskusi kelompok di mana anggota bekerja sama untuk menyelesaikan masalah atau membuat keputusan. Ini sering melibatkan negosiasi dan kompromi.
  • Contoh: “Kita perlu bermusyawarah untuk menemukan solusi terbaik bagi masalah limbah di kota kita.”

Setiap metode memiliki tempatnya dalam komunikasi dan dapat digunakan sesuai dengan konteks dan tujuan pembicaraan.

Ragam Persuasif:

 Dalam komunikasi sehari-hari, kita sering menggunakan berbagai cara untuk menyampaikan pesan atau mencapai tujuan tertentu. Berikut adalah contoh dari setiap situasi yang Anda sebutkan:

Mengajukan Argumen: Untuk mendukung pendapat bahwa pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan, kita dapat menyampaikan alasan seperti tingginya korelasi antara tingkat pendidikan dan pendapatan individu, serta bukti dari penelitian yang menunjukkan bahwa negara dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil.

Memberikan Nasihat: Jika seseorang mengalami stres karena beban kerja, saya akan menyarankan untuk mengatur waktu dengan lebih baik, memprioritaskan tugas, dan mengambil waktu istirahat secara teratur. Mencari dukungan dari rekan kerja atau menggunakan teknik relaksasi juga dapat membantu.

Membujuk: Untuk memengaruhi seseorang agar mulai menjalani gaya hidup yang lebih sehat, kita bisa menekankan manfaat jangka panjang seperti peningkatan energi, kesehatan yang lebih baik, dan risiko penyakit yang lebih rendah. Memberikan contoh nyata dari orang-orang yang telah berhasil melakukan perubahan serupa bisa menjadi motivasi tambahan.

Menegosiasikan: Dalam negosiasi antara pembeli dan penjual, keduanya mungkin mencari kesepakatan harga yang adil. Pembeli mungkin menawarkan harga yang lebih rendah berdasarkan perbandingan pasar, sementara penjual mungkin menekankan kualitas dan keunikan produknya. Kunci dari negosiasi yang sukses adalah komunikasi yang terbuka dan mencari titik temu yang menguntungkan kedua belah pihak.

Setiap situasi ini membutuhkan pendekatan yang berbeda dan kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan cara yang efektif.

Ragam Ekspresif

Dengan memahami ragam ekspresif ini, kita dapat berkomunikasi dengan lebih kaya dan mengekspresikan diri dengan lebih baik.

Ragam ekspresif adalah cara yang indah untuk mengekspresikan kreativitas dan emosi kita. Berikut adalah contoh dari setiap jenis ragam ekspresif yang Anda sebutkan:

Menceritakan: Suatu hari, saya bertemu dengan seorang pelukis tua di pinggir jalan Paris. Dia menceritakan tentang masa mudanya, berkelana dari satu kota ke kota lain, menangkap keindahan dunia dalam sapuan kuasnya. Kisahnya penuh warna dan petualangan, seperti lukisan-lukisannya yang menghiasi jalanan. Ini adalah cara kita menyampaikan suatu kisah atau pengalaman. Ini bisa berupa cerita tentang petualangan, kenangan masa lalu, atau peristiwa yang menarik.

Menggambarkan: Langit senja itu berwarna jingga, dengan semburat merah dan ungu yang melukis cakrawala. Angin sepoi-sepoi membawa aroma laut yang asin, dan suara ombak yang lembut berpadu dengan nyanyian burung camar. Pantai itu, pada saat itu, adalah lukisan hidup yang sempurna. Ini adalah kemampuan kita melukiskan suatu objek, tempat, atau suasana dengan kata-kata. Ini memungkinkan pendengar membayangkan apa yang kita deskripsikan.

Mengekspresikan Perasaan: Ketika saya melihat bintang-bintang di langit malam, saya merasa sebuah kekaguman yang tak terhingga. Luasnya alam semesta ini mengingatkan saya pada betapa kecilnya kita, dan betapa setiap momen yang kita miliki adalah berharga. Ini melibatkan menyatakan emosi atau perasaan kita dengan kata-kata. Ini bisa berupa kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, atau kekaguman.

Bercanda: Apa yang dikatakan nol kepada angka delapan? “Hei, bagus ikat pinggangmu!” 😄 Dengan cara ini kita menghadirkan humor dalam percakapan. Lelucon, kalimat lucu, atau sindiran ringan dapat membuat suasana lebih ceria.

Ragam ekspresif memungkinkan kita untuk terhubung dengan orang lain pada level yang lebih dalam, berbagi pengalaman, dan menciptakan momen kebahagiaan bersama. Jika Anda ingin saya menciptakan sesuatu yang lebih spesifik atau memiliki pertanyaan lain, silakan beritahu saya!

Cerita Senja 1

Sudah lewat dari dua belas tahun lebih, berarti atau tidak menggerakkan tinta terkadang menjaga akal tetap waras dan kemampuan serta fungsi ...